Hadist Palsu: Tidur Orang Berpuasa Ibadah

Selama ini umat muslim selalu mendengar kontroversi dan sebagian masih ada meyakini hadist tentang “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” merupakan hadis yang tidak benar atau hadist yang lemah atau hadist palsu. Sehingga saat ini tidak ada alasan lagi umat muslim yang berlehaleha tiduran dari pagi hingga sore karena alsan tidur orang berpuasa adalah ibadah

Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdullah bin Abi Aufa radhiallahu ‘anhu. Hadis ini juga disebutkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, 1:242. Teks hadisnya,

نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف

“Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.”

Ternyata dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang bernama Ma’ruf bin Hassan dan Sulaiman bin Amr An-Nakha’i. Setelah membawakan hadis di atas, Al-Baihaqi memberikan komentar, “Ma’ruf bin Hassan itu dhaif atau hadist lemah, sementara Sulaiman bin Amr lebih dhaif dari dia.”

Imam al-Baihaqi menjelaskan, dalam sanad hadis ini ada Ma’ruf bin Hassan, perawi yang lemah. Dalam riwayat yang lain terdapat Sulaiman bin ‘Amru al-Nakh’i dan ia lebih lemah lagi. Bahkan, al-Iraqi menegaskan, Sulaiman ini adalah seorang pendusta yang memalsukan hadis. Ibnu Hibban mengatakan, Sulaiman adalah orang yang banyak memalsukan hadis dan termasuk penganut paham Qadariyah. Yahya bin Ma’in menegaskan, Sulaiman seorang pendusta yang banyak memalsukan hadis.

Dalam Takhrij Ihya’ Ulumuddin, 1:310, Imam Al-Iraqi mengatakan, “Sulaiman An-Nakha’i termasuk salah satu pendusta.” Hadis ini juga dinilai dhaif oleh Imam Al-Munawi dalam kitabnya, Faidhul Qadir Syarh Jami’us Shaghir. Sementara, Al-Albani mengelompokkannya dalam kumpulan hadis dhaif (Silsilah Adh-Dhaifah), no. 4696.

Riwayat masyhur yang menyebutkan tidurnya orang berpuasa itu ibadah termasuk ke dalam hadis dhaif jiddan atau hadist yang lemah sekali. Bahkan, sebagian ulama mengatakan hadis ini maudhu’ atau hadist palsu. Al-Iraqi ketika men-takhrij hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Ihya `Ulumuddin karangan Imam al-Ghazali menjelaskan, hadis ini terdapat dalam kitab Amali karangan Ibnu Mandah dari riwayat Ibnu al-Mughirah al-Qawwas dari Abdullah bin Umar dengan sanad yang lemah.

Kemungkinannya, itu dari Abdullah bin ‘Amru karena para ulama hadis tidak menyebutkan Ibnu al-Mughirah pernah meriwayatkan kecuali dari Abdullah bin ‘Amru.

Namun, Syekh ‘Athiyyah Shaqr menjelaskan, seorang yang sedang berpuasa dan karena dalam pergaulannya sehari-hari dengan masyarakatnya akan menyebabkan ia melakukan hal-hal bertentangan dengan hikmah dari ibadah puasa itu sendiri. Seperti, berbohong, gosip, bergunjing, melihat yang haram, serta hal-hal yang diharamkan maka jika ia tidur dengan niat menghindari hal tersebut, tentu tidurnya jadi bernilai ibadah.

Hal itu sama dengan orang yang tidak mempunyai harta untuk bersedekah dan tidak mampu menolong orang lain maka sedekahnya, menurut Nabi, adalah dengan menahan diri dari berbuat buruk kepada orang lain. Dari Abu Sa’id bin Abi Burdah dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi, beliau bersabda, “Wajib atas setiap orang Muslim bersedekah.” Dikatakan kepada beliau, “Bagaimana bila ia tidak mampu?” Beliau menjawab, “Ia bekerja dengan kedua tangannya sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan juga bersedekah.” Dikatakan lagi kepadanya, “Bagaimana bila ia tidak mampu?” Beliau menjawab, “Ia membantu orang yang benar-benar dalam kesusahan.” Dikatakan lagi kepada beliau, “Bagaimana bila ia tidak mampu?” Beliau menjawab, “Ia memerintahkan dengan yang makruf atau kebaikan.” Penanya kembali berkata, “Bagaimana bila ia tidak ( mampu ) melakukannya?” Beliau menjawab, “Ia menahan diri dari perbuatan buruk maka sesungguhnya itu adalah sedekah.” ( HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim ).

Namun, di lain pihak, jika seseorang yang berpuasa lebih memilih tidur daripada melakukan hal-hal positif, produktif, bermanfaat, serta bernilai ibadah, tentu hal itu bertentangan dengan perintah agama yang mewajibkan seorang Muslim menggunakan segala kemampuannya menjalankan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Karena itu, jika tidur yang dilakukan menghalangi diri dari perbuatan yang lebih bermanfaat dan positif, apalagi karena kemalasan, tentu tidur seperti itu salah dan sama sekali tidak ada nilai ibadahnya. Wallahu a’lam bish-shawab

Oleh karena itu, wajib bagi seluruh kaum muslimin, terutama para khatib, untuk memastikan kesahihan hadis, sebelum menisbahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita kita boleh mengklaim suatu hadis sebagai sabda beliau, sementara beliau tidak pernah menyabdakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperingatkan,

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama kalian. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.” (H.r. Bukhari dan Muslim)

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Agama Islam dan tag . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s